Industri Tepung Terigu Nasional

Oleh : IRSA (Indonesia Research and Strategic Analysis)

KETAHANAN PANGAN

Diversifikasi pangan sangat penting untuk mengurangi ketergantungan pada beras:

  • Swasembada beras menghadapi banyak tantangan: keterbatasan perluasan lahan sawah, lahan subur beririgasi makin berkurang dan tingkat hasil (yield) cenderung stagnan. Sementara itu, mengganti beras dengan sumber karbohidrat lokal lain (singkong, ubi jalar, dll) perlu waktu lama;
  • Sampai batas tertentu, peningkatan tingkat konsumsi terigu telah dapat membantu Indonesia mempertahankan tingkat kecukupan beras di atas 90%;
  • Gandum lebih bersifat tradable daripada beras – porsi ekspor terhadap total produksi gandum dunia lebih tinggi dari proporsi yang sama untuk komoditas beras: substitusi beras dengan gandum dapat mengurangi masalah ketahanan pangan;
  • Harga terigu di dalam negeri relati stabil dan berperan menjaga stabilitas harga pangan.

Konsumsi beras per kapita cenderung turun…..

Rata-rata konsumsi makanan mengandung beras turun dari 2.1 kg  menjadi  1.9 kg beras per minggu, atau dari 107.7 kg (2002) menjadi 97.4 kg (2013) per tahun.

Penurunan tingkat konsumsi beras tersebut sebagian disebabkan karena peningkatan konsumsi gandum dan telah mengurangi kebutuhan untuk mengimpor beras.

konsumsi-beras-per-kapita

Data source: Ministry of Agriculture

 

Tingkat perdagangan (tradability) gandum jauh lebih tinggi dari beras

Rasio impor dan ekspor terhadap total produksi global (rata-rata periode 1980-2011), masing-masing,

  • gandum: 19.52% dan 19.67%;
  • jagung: 14.07 % dan 14.13%;
  • beras: 3.57% dan 3.70%.

Beras yang diperdagangkan relatif sangat sedikit.

Menurut satu kajian,*

Volatilitas harga untuk jagung dan gandum berkorelasi positif dengan ratio perdagangan:

There is more openness to exchanging these goods between countries especially during sudden upward and downward price surges.

Sebaliknya, voltilitas harga beras berlawanan dengan ratio perdagangan: saat terjadi gejolak harga (naik atau turun drastis) perdagangan beras justru makin sedikit.

(*Clarete, Adriano, Esteban , 2013, Rice Trade and Price Volatility: Implications on ASEAN and Global Food Security

Ratio impor dan ekspor terhadap total produksi

rasio-impor-dan-expor

Data source: FAO Stat.

 

Harga terigu lebih stabil dari harga beras……

  • Harga terigu di pasar domestik jauh lebih stabil daripada harga beras;
  • Selama 2008-2013: indeks volatilitas harga terigu sekitar 20% lebih rendah dari volatilitas harga beras (0.016 untuk terigu; 0.020 untuk beras)

Perubahan harga bulanan, Jan 2008 – Des 2013

perubahan-harga-beras

Data source: BPS , Monthly report, economic & social data, various edition.

 

PRODUKSI & EKSPOR PRODUK GANDUM

Industri terigu di dalam negeri mendukung pertumbuhan industri dan penyerapan tenaga kerja:

  • Bersama industri minuman dan pengolahan tembakau, industri makanan merupakan penyumbang utama pada PDB industri pengolahan non-migas;
  • Peran industri makanan dalam penciptaan nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja tumbuh kuat, industri makanan juga memberi kesempatan luas bagi usaha mikro dan kecil;
  • Terigu merupakan bahan baku utama industri makanan: pesokan terigu yang handal sangat dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan cepat pada industri tersebut;
  • Impor gandum merupakan konsekwensi dari perkembangan industri terigu, tetapi semakin dapat diimbangi oleh peningkatan ekspor terigu, produk samping industri terigu dan produk-produk berbasis terigu.

 

Industri makanan, minuman dan tembakau tumbuh kokoh, perannya pada sektor industri pengolahan non-migas terus meningkat.

  • Selama 2009-2013, peran industri makanan, minuman dan tembakau naik 3 poin menjadi 36% dari total PDB industri non-migas;
  • Industri makanan minuman dan tembakau tumbuh 1.2 poin lebih tinggi dari pertumbuhan industri non-migas.

Pertumbuhan dan peran industri makanan, minuman dan tembakau, %.

pertumbuhan-dan-peran-industri-makanan-minuman-dan-tembakau

Data source: BPS ,

Note: * Share to total of non-oil and gas manufacturing sector

 

Peran industri makanan terus meningkat: pada penciptaan nilai tambah maupun penyerapan tenaga kerja:

  • Peran pada nilai tambah industri non-migas naik dari 18% (2010) menjadi 21% (2013);
  • Peran dalam penyerapan tenaga kerja naik dari 26% menjadi 29%.
  • Industri makanan relatif lebih padat karya: peran IMK dalam penyerapan tenaga kerja naik lebih cepat dari peningkatan perannya dalam penciptaan nilai tambah.

Industri makanan: peran dalam nilai tambah dan peneyarapan tenaga kerja pada industri pengolahan non-migas, %.

industri-makanan

Data source: BPS, Medium & large manufacturing statistics & Micro and small manufacturing survey

 

Pada 2013, ekspor terigu, produk samping gandum dan produk berbasis terigu mencapai lebih dari ¼ total impor gandum dan terigu.

Dalam waktu dekat, total ekspor produk tersebut ditargetkan mencapai US$1 milyar.

Impor gandum dan terigu  dibandingkan dengan ekspor terigu, produk samping gandum dan produk berbasis terigu, US$ juta.

impor-gandum-dan-terigu

Data source: BPS

 

Ekspor terigu, produk samping gandum dan produk berbasis terigu, 2009 – 2013

ekspor-teriguData source: BPS

Selama 2009-2013, ekspor terigu, produk samping gandum dan produk berbasis terigu, naik lebih dua kali lipat.

 

PERKEMBANGAN INDUSTRI TERIGU

Persaingan pada industri terigu di dalam negeri meningkat signifikan:

  • Jumlah perusahaan dan kapasitas industri terigu naik cepat;
  • Milling margin cenderung turun;
  • Terjadi transmisi simetris harga gandum di pasar dunia dengan harga grosir terigu di dalam negeri;
  • Untuk menjaga stabilitas permintaan, produsen terigu berupaya meredam gejojak harga sehingga harga terigu menjadi lebih stabil.

 

Setelah deregulasi, jumlah industri terigu tumbuh pesat:

  • Sampai dengan 1997 (sebelum deregulasi) hanya ada lima pabrik terigu dengan total kapasitas 6.5 juta ton/thn;
  • Pabrik baru mulai muncul sejak 2007; pada 2013 jumlah pabrik menjadi 23 dengan kapasitas 9 juta ton/thn.
  • Enam pabrik baru direncanakan akan mulai berproduksi pada 2014-15, menambah kapasitas menjadi sekitar 10.3 juta ton/thn.

Jumlah perusahaan industri terigu:

Tambahan jumlah, sebelum dan sesudah deregulasi

jumlah-perusahaan-terigu

Data source: APTINDO

 

Perkembangan harga terigu mencerminkan peningkatan persaingan pada industri terigu di dalam negeri:

  • Milling margin cenderung turun:

Selama 2010-2013, perbedaan harga terigu dengan harga gandum turun hampir 1/3.

  • Harga terigu domestik bersifat simetris dengan harga gandum di pasar dunia;
  • Harga terigu domestik lebih stabil dari harga gandum di pasar dunia:

Produsen harus meredam fluktuasi harga gandum untuk membuat harga terigu lebih stabil..

Stabilisasi harga lebih ditujukan untuk menstabilkan permintaan dari pada meningkatkan milling margin.

Perbedaan harga terigu dan gandum:

Rupiah / kg

perbedaan-harga-gandum-dan-terigu

Note: price difference between wheat flour (in 25 kg packing – Segitiga biru) and US hard-red winter wheat.

Data source: APTINDO, IMF Web.

 

Rigiditas harga terigu domestik disebabkan karena retailer memanfaatkan momen penurunan harga grosir untuk menambah keuntungan.

Retailer cenderung mempertahankan harga eceran walaupun harga grosir turun.

Perkembangan harga eceran dan margin perdagangan eceran:

Rp / kg

perkembangan-harga-eceran

Data source: APTINDO, BPS, IMF web.

Note: retail margin is the difference between average retail price per kg of wheat flour in 25 kg packing.

 

Terigu sebagian besar digunakan oleh industri pengolahan makanan termasuk oleh industri dkala kecil (pembelian dengan harga grosir), harga grosir lebih mencerminkan dinamika pasar daripada harga eceran.

dinamika-pasar

 

ISU KEBIJAKAN & PERDAGANGAN

Diperlukan kebijakan yang adil bagi industri terigu di dalam negeri:

  • Perlindungan dari praktek dumping pada terigu impor;
  • Meninjau kembali persentasi PPn input (termasuk impor gandum) yang dapat dikreditkan, sehubungan dengan kebijakan PPn ditanggung pemerintah bagi terigu dan produk samping gandum yang digunakan untuk pakan:

Industri terigu harus menanggung sebagian besar biaya kebijakan PPn ditanggung pemerintah  sehingga biaya produksi terigu domestik menjadi relatif lebih tinggi.

  • Promosi ekspor produk hasil industri terigu dan produk berbasis terigu.
  • FTA membuat industri terigu Nasional bisa menembus export, karena hambatan tarif tidak ada

 

Rasio harga terigu impor terhadap harga gandum turun drastis mengindikasikan adanya praktik dumping pada terigu impor:

  • Rasio harga terigu impor terhadap harga gandum di pasar global turun drastis selama 2010 — 2011 dan terus bertahan sekitar 1.1 sampai 2013;
  • Harga terigu impor dari negara tertentu hampir sama dengan harga gandum.Biaya bahan baku gandum mencakup sekitar 81% dari total biaya produksi terigu. Harga terigu impor boleh jadi dibawah harga produksinya.

Harga terigu impor menurut negara asal:

harga-terigu-impor

Harga gandum dan terigu impor*):

US$ / kg, or otherwise indicated

harga-gandum-dan-terigu-impor

Catatan: *)  dihitung berdasarkan nilai dan volume impor; **) rata-rata tahunan harga gandum US hard-red winter .

Sumber data: BPS, IMF web: commodity price data.

 

Industri terigu di dalam negeri harus menanggung beban akibat kebijakan PPn:

  • Pemerintah menanggung PPn atas penjualan domestik terigu dan produk samping gandum yang digunakan untuk pakan;
  • Sebagian PPn masukan industri terigu –besarnya tergantung persentase penjualan dengan PPn ditanggung pemerintah – tidak dapat dikreditkan;
  • Seperti diilustrasikan pada perhitungan berikut: sebagian besar biaya kebijakan tersebut (80% atau 31/38) ditanggung oleh industri terigu.

Illustrative figure: VAT on 1 kg imported wheat

vat-on-1kg-imported-wheat

Negara tujuan ekspor –termasuk yang tidak memproduksi gandum– umumnya mengenakan tarif tinggi atas impor terigu:

  • Tarif impor di negara tujuan tinggi adalah tantangan utama yang harus dihadapi oleh industri terigu untuk melakukan ekspor;
  • Sementara itu, industri terigu di dalam negeri mendapat perlindungan tarif sangat rendah, tingkat tarif 5%.

Applied tariff on wheat flour imports, %.

applied-tariff

 

Pemberdayaan industri domestik sangat dibutuhkan untuk meningkatkan daya saing:

  • Liberalisasi perdagangan menciptakan peluang sekaligus tantangan bagi industri terigu dan produk berbasis terigu untuk meningkatkan pertumbuhan dan ekspor.
  • Selain ketersediaan dan harga pasokan terigu, banyak faktor yang mempengaruhi daya saing industri pengolahan produk berbasis terigu: infrastruktur dan lingkungan usaha yang lebih baik adalah sangat penting;
  • Hambatan non-tariff sering menjadi hambatan bagi industri domestik dalam melakukan ekspor: memperkuat negosiasi perdagangan dan perlindungan pasar domestik dari perdagangan yang tidak adil dengan produk impor, sangat diperlukan.

 

Posted in Artikel