Highlight Industri Terigu Nasional

Oleh : IRSA (Indonesia Research and Strategic Analysis)

PERANAN INDUSTRI TERIGU NASIONAL

peranan-industri-terigu-nasional

Solusi masalah Pokok dalam Perekonomian

  • Ketahanan Pangan; pasokan terigu yang handal membantu mengurangi ketergantungan pada beras. Diversifikasi pangan sangat penting untuk mengurangi ketergantungan pada beras
  • Pertumbuhan Industri; pasokan terigu yang handal mendorong pertumbuhan industri makanan turunannya

Permasalahan ketersediaan Beras

  • Swasembada beras menghadapi banyak tantangan:
  1. Kesulitan memperluas area persawahan,
  2. Lahan sawah yang ada makin berkurang akibat korversi lahan sawah untuk kebutuhan lain,
  • Produksi beras nasional tumbuh makin lambat; hasil beras per hektar cenderung stagnan.
  • Harga Internasional untuk beras semakian mahal dibanding harga Gandum sebagai bahan baku terigu

Industri Tepung Terigu Memperkokoh Ketahanan Pangan Nasional dan terjadi Diversifikasi  Pangan Mengurangi ketergantungan Beras, karena  :

  • Gandum lebih bersifat tradable daripada beras – porsi ekspor terhadap total produksi gandum dunia lebih tinggi dari proporsi yang sama untuk komoditas beras, substitusi beras dengan gandum dapat mengurangi masalah ketahanan pangan
  • Harga terigu di dalam negeri relatif stabil dan berperan menjaga stabilitas harga pangan
  • Terigu menjadi pilihan utama pengganti beras karena sifatnya yang feksibel, mudah diolah menjadi berbagai produk makanan
  • Pasokan terigu yang handal dengan harga terjangkau telah membantu mengurangi konsumsi beras perkapita sehingga tingkat kecukupan beras dapat dipertahankan di atas 90%.

Kekhawatiran :

Bagi sementara kalangan, substitusi beras dengan gandum (terigu) menimbulkan kekhawatiran, karena gandum (terigu) harus diimpor.

Persoalannya :

Jika tidak ada gandum (terigu), konsumsi beras akan tetap tinggi.  Impor beras sulit turun, bahkan diperkirakan akan terus meningkat.

Penurunan Tingkat Konsumsi Beras

  • Rata-rata konsumsi makanan mengandung beras turun dari 2.1 kg menjadi 1.9 kg beras per minggu, atau dari 107.7 kg (2002) menjadi 97.4 kg (2013) per tahun.
  • Penurunan tingkat konsumsi beras tersebut sebagian disebabkan karena peningkatan konsumsi gandum dan telah mengurangi kebutuhan untuk mengimpor beras.
  • Perdagangan beras di pasar dunia relatif kecil dibandingkan dengan produksi.

beras yang diperdagangkan relatif sedikit. Untuk komoditi beras, masing-masing negara cenderung bersifat autarki (mementingkan kebutuhan sendiri).

  • Berbeda dengan komoditas pangan lain (gandum dan jagung), di saat terjadi gejolak harga, beras yang diperdagangkan antar negara justru berkurang.

Sebaliknya untuk gandum dan jagung, gejolak harga justru meningkat perdagangan antar negara.

  • Ketergantungan pada beras impor membuat ketahanan pangan semakin rentan.

Impor gandum atau jagung relatif kurang beresiko, karena relatif tersedia di pasar, bahkan pada saat terjadi gejolak harga.

Persaingan pada industri terigu di dalam negeri meningkat signifikan

Sejak reformasi, industri terigu di dalam negeri semakin kompetitif, persaingan di pasar terigu didalam negeri makin fair:

  • Jumlah perusahaan dan kapasitas industri terigu naik cepat;
  • Konsekuensi dari peningkatan persaingan tersebut, miling margin (perbedaan harga terigu di dalam negeri dengan harga gandum di pasar global) makin kecil;
  • Produsen di dalam negeri tidak dapat seenaknya menentukan harga. Harga terigu di dalam negeri secara simetris mencerminkan harga gandum di pasar global;
  • Harga terigu pasar domestik justru lebih stabil karena produsen berupaya meredam gejolak harga untuk menjaga stabilitas permintaan.

Tantangan bagi Industri Terigu Nasional :

Liberalisasi perdagangan menciptakan peluang sekaligus tantangan bagi industri terigu dan produk berbasis terigu untuk meningkatkan pertumbuhan dan ekspor.

  • Selain ketersediaan dan harga pasokan terigu, banyak faktor yang mempengaruhi daya saing industri pengolahan produk berbasis terigu: infrastruktur dan lingkungan usaha yang lebih baik adalah sangat penting;
  • Hambatan non-tariff negara lain sering menjadi hambatan bagi industri domestik dalam melakukan ekspor: memperkuat negosiasi perdagangan dan perlindungan pasar domestik dari perdagangan yang tidak adil dengan produk impor, sangat diperlukan.

 

Posted in Artikel